KSATRIA TEMBAGA

Dikisahkan pada zaman dahulu tempat di antara jazirah Lei Timur dan jazirah Lei Hitu, dihubungkan oleh hamparan tanah kecil yang bernama Tanah Genting Baguala, hidup seorang Ksatria dengan tinggi semampai dan mempunyai pedang berwarna emas yang dijuluki para penduduk Jazirah sebagai Ksatria Tembaga. Saat sedang mengasah pedang di kediamannya, tiba-tiba ia mendengar ada suara warga desa sedang berteriak dan suara keributan, ternyata desa penduduk sedang diserang seekor Ular Raksasa. Saat Ular Raksasa itu melarikan diri, Ksatria Tembaga langsung mengejarnya. Ksatria Tembaga mengejar ular tersebut sampai ke pantai tempat Ular Besar itu tinggal. Ketika Ksatria Tembaga datang, Ular Besar sedang bersampingan dengan sebuah batang pohon. Saat mengintai Ular Raksasa dibalik pepohonan, sang Ular Raksasa menyadari keberadaannya dan langsung menyerang Ksatria Tembaga. Ksatria Tembaga yang lincah menghindar dan menggunakan pedang Tembaga nya yang sangat tajam, karena badan Ular yang besar, Ular tersebut tidak dapat mengimbagi kelincahan Ksatria Tembaga pun lengah, akhirnya Ksatria Tembaga dapat membalikkan keadaan dan mengalahkan sang Ular Raksasa. Sejak saat itu, penduduk menambahkan julukan baru pada Ksatria Tembaga, yaitu “yang dipertuan Agung”